Sabtu, 17 Januari 2015

Konsekuensi Pemakai Batu Permata atau Batu Akik

Posted by Badar Jailani. Category:



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, sahabat sekalian ini adalah fenomena hidup manusia yang kadang hanya pintar dan tahu untuk memakai tapi tidak tahu konsekuensinya.

Hidup ini bukan lagi zaman batu, tapi kenapa kita kembali ke zaman yang sudah lama kita tinggalkan. Dipakai karena hiasan, dipakai karna Cuma ingin menyalurkan hobi tak ada sumber yang mampu meyakinkan kita untuk menjadikannya halal di mata Allah swt.

Demam batu permata yang melanda Sulsel sejak Desember 2014 bukan fenomena baru. Ini fenomena berulang. Bahkan, demam batu permata sudah terjadi di zaman Rasulullah SAW, 1.400 tahun silam.

Hadis riwayat Imam Muslim yang menjelaskan bahwa cincin Rasulullah SAW terbuat dari perak dan batu mata cincinya berasal dari negeri Habasyi.

Beberapa riwayat menerangkan bahwa Nabi sendiri juga mengenakan cincin yang terpasang di jari kelingkingnya sebagaimana hadis riwayat Anas bin Malik mengatakan, Cincin Rasulullah terbuat dari perak dan batunya merupakan batu Habasyi, (H.R. Muslim & Tirmidzi), hadis ini diderajatkan hasan sahih, dan dishahihkan oleh Al-Albani.

“Dari Anas bin Malik ra ia berkata, bahwa cincin Rasulullah saw itu terbuta dari perak dan mata cincinya itu mata cincin Habasyi”. (H.R. Muslim)

Dalil di atas juga menunjukkan bahwa batu cincin Rasulullah berjenis Habsyi, sejenis batu berwarna hitam kemerah-merahan yang berasal dari Afrika, riwayat lain menyebutkan, Batu Akik Yaman. Jenis batu ini dapat ditemui di Afrika dan Yaman, dan ciri-cirinya dikenali dengan warna merah tua pekat atau merah darah, walau terlihat kehitam-hitaman, jika diliat dengan cahaya laser akan terpancar merah tua pekak, tidak jauh beda dengan batu bacan asal Indonesia.

Dalam hadis lain riwayat Imam Muslim dikisahkan, cincin Rasulullah bertuliskan 'Muhammadur-Rasulullah'. Model penulisannya menempatkan nama beliau di bawah kalimat Allah yang berada di atas. Setelah Nabi wafat, cincin itu dipakai oleh Umar bin Al-Khattab lalu diwariskan kepada Utsman bin Affan. Suatu ketika, Utsman tak sengaja menjatuhkannya di sumur dan hilang. Akhirnya, sumur itu pun dinamai "khatam" yang berarti cincin.

Istilah khatam juga umum dipakai sebagai penutup sebuah surat yang dilegalisasi sebuah stempel, karena itu pula orang Arab menyebut khatam sebagai stempel, dan cincin Nabi memang berfungsi sebagai stempel surat menyurat.

Hadis tentang batu permata itu sudah diulas Ilham Kadir, Peneliti MIUMI & Kandidar Doktor Pascasarjana UIKA Bogor, dalam rubrik Opini Tribun Timur, edisi 9 Januari 2015. (http://makassar.tribunnews.com/2015/01/09/kemaruk-cincin-batu-akik).

Batu Akik ditemukan di banyak negara termasuk di Indonesia, India, Iran, dan China dalam beragam warna merah, kuning, abu-abu condong ke warna biru, dan putih.

Ibnu Shahr Ashub meriwayatkan: Pada satu hari malaikat jibril turun menghadap Rasulullah SAW dan berkata, "Tuhanku menyampaikan salam kepadamu dan berfirman untuk memakai cincin di tangan kanan dan memasang batunya dari Akik dan katakan kepada sepupumu (anak pamanmu; Imam Ali as) untuk memakai cincin di tangan dan memasang batunya dari batu Akik, kemudian Ali as bertanya, Ya Rasulullah SAW apa itu Akik? Rasulullah SAW berkata, "Akik adalah sebuah gunung di Yaman." (Tribun Makassar)

0 komentar:

Posting Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►